Untuk Kamu, Istri Masa Depanku

Saat aku menulis ini tentu aku belum tahu siapa dirimu. Bisa jadi teman lama, teman baru, sahabat dekat, orang yang tidak bisa aku pahami atau mungkin kita belum pernah kenal sama sekali.

Isteri masa depanku,

Hari-hari ini aku bekerja keras menyambut  hari pernikahan kita nanti. Bukan, bukan persiapan pesta yang wow yang aku maksud. Aku hanya ingin mempercepat rencana-rencana yang akan kita susun. Mungkin, saat kita bertemu aku belum cukup mapan. Kau mau kan menjadi bagian dari kerja kerasku?

Soal rencana, kalau boleh cerita aku hingga merencanakan beberapa hal setelah kita menikah.  Aku ingin kita bikin perjalanan wisata sambil belajar. Setidaknya setiap 3 bulan sekali kita akan mengunjungi daerah yang mengandung nilai historis dan mengunjungi orang-orang inspiratif. Kita akan mengemasnya dalam tulisan dan foto yang menarik (kalau perlu, kita bukukan agar anak kita nanti tahu berapa romantis Ayah dan bundanya hehehe).

Isteri masa depanku,

Aku selalu menghindar untuk memilih pekerjaan yang sifatnya sangat terikat. Aku hanya sedang membiasakan diri agar nanti punya banyak waktu untuk keluarga. Kamu mau kan punya suami yang tidak suka pekerjaan tetap? (Aku punya jawaban seandainya orangtuamu menanyakan tentang ini, “Pak, saya memang tidak mempunyai pekerjaan tetap, tapi saya akan tetap bekerja untuk menghidupi anak bapak.” *esseeeh 😛

Keseharian dalam membangun rumah tangga, aku ingin kita bisa jadi teman yang baik, bisa jadi pacar yg lucu, bisa jadi partner yang keren dan bisa jadi istri yang romantis. Kita akan akan mengisi ruang dapur bersama-sama.  Masak bareng,  cuci piring bareng, atau mengurus cucian sama-sama (ah, rasanya sungguh romantis saat membayangkan aku menyiramimu dengan busa sabun :D)

Isteri masa depanku,

Aku ingin kita terus terus punya prioritas yang tinggi terhadap keluarga. Sekalipun nanti kita mapan, aku hanya ingin anak2, kita sendiri yang mengasuh. Kau bisa membayangkan betapa lucunya saat kita mendandani dia dipagi hari? Betapa bingungnya kita saat dia menangis di tengah malam menjelang pagi? Atau betapa bahagianya saat dia sudah paham bagaimana cara bikin orangtuanya tersenyum? Kita akan akan menjadi sahabat buat anak-anak kita diwaktu yang lain, kita akan setia mendengar saat dia cerita betapa menyebalkan teman-teman di sekolahnya, kita akan mendampingi saat dia sedang ikut kompetisi, dan kita akan memeluk dia erat saat sedang berada di level terbawahnya.

Istri masa depanku,

Seandainya aku punya rezeki lebih ingin sekali membuat sebuah ruang keluarga di rumah kecil kita. Itu bukan ruang tamu, tapi ruang baca, ruang kita berdiskusi, ruang dongeng untuk anak-anak. Kita akan menyusun sofa-sofa lucu di tengah ruangan. Di sudut ruang tentu berisi rak buku. Nah, di rak buku ini akan dilengkapi berbagai macam buku yang pernah dan yang akan kita  beli. Di sudut lain kita menyiapkan perlengakapan untuk menyetel musik instrumen. Setiap hari kita akan gantian untuk bacakan dongeng dan menemani anak kita belajar di ruang ini (tentu kalau dia sudah besar, dia juga harus menceritakan dongeng hasil karangannya sendiri :D). Diwaktu lain aku ingin menghidupkan ruangan ini dengan diskusi-diskusi dari hasil pengamatan dan bacaan kita. Bagian ini tentu waktunya lebih fleksibel.

Istri masa depanku,

Kalau boleh aku minta satu hal, sebaiknya kita tinggal terpisah dari rumah orangtua. Bisa kan? Pertimbangannya begini, kita akan punya empat orangtua, sekalipun orangtuaku bukan orangtua kandungmu, selepas menikah posisi mereka sama dengan orangtuamu. Posisiku juga demikian. Aku hanya takut tidak bisa berlaku adil bila kita memilih tinggal salah satu keluarga baik dari pihakmu ataupun aku. Mungkin kita bisa adil dalam hal ekonomi, tapi yakinlah kita tidak mungkin adil dalam hal perhatian. Aku hanya ingin mencegah anggapan kalau kita berat ke sebuah keluarga. Selain itu, aku tidak mau membebankan orangtua untuk menanggung hal-hal yang seharusnya kita lewati. Misalnya, kita sedang krisis ekonomi, rasanya sungguh malu kan kalau belanja dapur saja harus orangtua kita yang nanggung? Lebih indah kalau kita makan apa adanya (walaupun rezekinya cuma seporsi) dan tinggal di rumah kecil yang masih status sewa. Kamu mau kan buat jaga keluarga besar kita?

Sayang!

Saat aku menulis ini mungkin kau sedang terlelap dalam tidurmu. Terima kasih untuk keputusan masa depanmu yang telah menerimaku!

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pukul 02:36 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top