Tuhan Jangan Pisahkan Lagi Keluarga Kami

Ah, sebenarnya aku tidak suka hari ini datang. Hari ini hari luka. Hari ketika aku pertama kali kehilangan. Kawan, aku cerita sedikit tentang tanggal ini. Tanggal yang paling kubenci seumur hidupku. 

Pagi itu, 26 Desember 2004 aku masih berusia 12 tahun 6 bulan 25 hari. Masih terlalu dini untuk mengetahui arti kehilangan.

***

Seperti biasa, pagi ini sangat hangat. Aku memilih bermain diperkarangan rumah bersama teman-teman yang lain. Padahal jam masih menunjukkan sangat pagi-setidaknya untuk hari libur seperti ini. Di dalam sana mama sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. Kakak dan Abang, juga seperti itu. Ayah? Aku tidak tahu persis sedang apa. Hari ini aku terlalu sibuk. Tidak sempat memperhatikan mereka satu persatu.

Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Aku tidak punya firasat apa-apa. Terus bermain. 07.45 WIB masih sama. 07.59 WIB aku masih terlalu sibuk. 08.00 WIB aku mulai merasakan getaran. Getaran hebat. Aku masih bingung dengan keadaan ini. Panik. Semua orang panik. Aku lihat mereka berhamburan keluar rumah. Berpegang di tiang-tiang. Ada yang menangis. Ada yang ketakutan. Tidak ada tawa. Hanya jeritan anak-anak.

08.05 WIB bumi mulai diam. Hening. Masih terlihat wajah-wajah panik.

Sekali ini aku bingung. Sibuk memperhatikan wajah-wajah ketakutan. Gempa tadi sangat kuat. Terlihat jelas jalan-jalan mulai pecah. Membentuk jurang kecil. Aku menggigil. Bukan dingin, tapi perasaan hebat benar-benar mengobok-obok perasaanku kali ini. Aku tidak tahu.

08.10 WIB. Tiba-tiba saja aku mendengar orang-orang berteriak. Tambah lama tambah ramai. Ketakutan-ketakutan menghujam jantungku. Sangat dalam. Reflek aku berlari mengikuti mereka. “Air..air naik.”. Aku masih tidak mengerti.

Tuhan, air mataku mulai berjatuhan. Aku benar-benar takut ketika melihat air bah hitam mulai menangkap kakiku. Aku takut. Bisa saja hari ini hari terkahirku. Sial, aku terjatuh. Pahit rasanya demi menelan air bah ini. Aku mual. Pingsan.

Tuhan, berikan aku penjelasan. Aku bingung harus berhadapan dengan orang-orang asing di sini. Aku tidak mengenal mereka. Baju yang kukenakan sempurna lusuh. Bau air bah. Aku butuh mama. Biasanya mama yang menggantikan bajuku yang jorok dengan yang baru. Tapi dimana?

”Mama…,” panggilku pelan. Tidak ada sahutan. “MAMA…MAMA,” juga tidak ada. Aku kembali panik. Melemparkan ke semua arah pandangan. Tidak ada. Ayah? Ayah juga tidak ada. Bagaimana dengan kakak? Bang Iqbal? Mereka juga tidak. Tuhan! berikan aku penjelasan tentang hari ini. Dimana mereka? Aku butuh mereka sekarang. “Tuhan…” aku memelas.

26 Desember 2007.

Kawan, aku tidak pernah berpikir ini adalah jalan hidupku. Begitu rumit. Aku hanya tinggal dengan Ayah saat tsunami datang. Sampai sekarang aku tidak tahu dimana mama, kakak dan abang. Semoga Tuhan memberikan tempat yang Indah untuk mereka.

26 Desember 2011

Aku sekarang telah berumur 19 Tahun, 6 bulan, 25 hari. Aku sudah dewasa. Kalau saja aku masih bisa berbagi cerita dengan mama, aku akan menceritakan betapa bahagianya hidupku sekarang. Aku sudah tidak seterpuruk tahun-tahun sebelumnya. Aku punya Ayah, punya bunda, aku punya adik. Aku punya teman-teman yang katanya mereka cukup menyayangiku.

Mama, kalau saja kau bisa mendengarkanku sekarang, aku akan bercerita banyak hal. Anakmu ini sudah dewasa Ma. Sudah pandai memilih. Mama, aku doakan kau baik-baik saja di sana. Begitu juga dengan kakak dan abang. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Amin.

26 Desember 2012

Sepertinya aku tidak perlu lagi menghitung umur. Lihat lah anakmu kini mama, sudah cukup dewasa. 9 Desember lalu, dia datang membawa kabar gembira. Membawa sepasang cincin sebagai tanda menjadikanku partner hidup matinya. Iya! Dia datang untuk hidup dan memiih menghidupiku. Sedang dia di sudut lainnya yang aku tahu cukup ingin mengganti posisi ini di kala waktu yang lain hanya duduk tersendu. Kali ini aku benar-benar telah memilih.

Delapan tahun lalu mungkin aku anak ingusan yang masih suka merengek Mama. Anak ingusan yang selalu ingin dimanjakan sebagai anak terakhir. Yang selalu menunggu makan hingga Mama marah-marah. Yang selalu ingin di sayang saat sakit. Yang selalu mengadu saat kakak atau abang datang menganggu. Sejujurnya, aku merindukan saat-saat itu. Saat kita masih bisa berkumpul bersama.

Hari ini seandainya aku tahu dimana kuburmu berada, tentu aku akan bilang, “titipkan pesan kepada Tuhan agar tidak memisahkan lagi keluarga kecil kami.”

26 Desember 2011, ketika malam penuh dengan kerinduan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top