Kesederhanaan di Dalam Gang-gang Sempit

Sebuah bangunan 27 lantai berdiri kokoh di Jalan Sudirman Medan. Dinding-dinding kristalnya cukup menyilaukan. Sama seperti hari ini kawan! Di depan plang yang bertuliskan “Grand Swiss Bel Hotel” dua orang penjaga sibuk mengarahkan mobil yang keluar-masuk gedung tersebut.

Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di kota Medan. Mereka menyediakan 240 kamar berpenyejuk udara dengan minibar dan brankas. Kamar memiliki pemandangan kota, taman, atau kolam renang.Kamar-kamar tersebut juga didekorasi secara khusus dan masing-masing berperabotan unik  yang memiliki ruang tamu terpisah. Ranjang memiliki seprai kualitas premium.

Televisi LCD 32-inci dilengkapi saluran satelit premium dan saluran film gratis. Kita, sebagai tamu dapat menggunakan lemari es dan mesin seduh kopi/teh dalam kamar. Kamar mandi memilikibathtub dan pancuran terpisah dengan bak air deras, pancuran genggam, dan pancuran hujan. Kamar mandi juga dilengkapi dengan jubah mandi, sandal, dan cermin rias.

Sangat mewah bukan? Tapi bukan kemewahan itu yang ingin saya ceritakan kawan. Tapi tentang gang-gang sempit. Tentang rumah-rumah sempit. Tentang kehidupan yang serba sempit!

Perkampungan itu kecil. Sekitar 30-an rumah dibangun di sana. Untuk menuju perkampungan kumuh, kita harus turun menuju ke bawah jembatan di jalan Kejaksaan. Perkampungan kumuh dimulai dari bawah jembatan dan berjejer sepanjang sungai mendekati Swiss Bel Hotel atau yang lebih kita kenal dengan Hotel Cambridge.

***

Uci, gadis kecil bermata leci, berambut poni, memulai keceriaan siang itu. Dia menggandeng tangan saya berkeliling kampung. Beberapa anak lain; Fira (kakaknya Uci), Sifa besar, Sifa kecil, Kiki, Pio, dan Abel, juga ikut kami. Umur mereka masih sangat muda.

Sifa Kecil, Kiki, Pio, dan Abel mungkin baru menginjak usia empat tahun. Uci yang paling kecil di bawah mereka. Sedangkan Sifa Besar menjadi paling tua. Katanya dia sudah kelas empat Sekolah Dasar (SD). Dia Sekolah di SD Inpres di Jalan Kejaksaan.

Sepanjang perjalanan melewati gang-gang sempit, saya hanya melihat rumah-rumah panggung. Antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak ada jarak. Semuanya satu atap. Satu atap sebelah kanan, dan satu atap sebelah kiri (dilihat kalau kita berjalan di gang). Hampir semua rumah terbuat dari kayu yang sebagiannya mulai lapuk karena terkena air sungai.

Kalau kita berdiri di seberang sungai, kita akan melihat situasi yang cukup kontras. Perkampungan kumuh akan terlihat begitu ‘kecil’. Latar belakangnya Hotel Cambridge yang menjulang tinggi. Kalau Anda pernah nonton film Rumah Tanpa Jendela, begitulah kondisinya. Perkampungan kumuh diantara bangunan mewah.

Pemandangan di sini cukup indah. Apalagi menjelang sore. Kehidupannya klasik. Beberapa perempuan dewasa mencuci pakaian di bantaran kali yang airnya mulai menguning kecoklatan (sebenarnya keruh karena baru siap hujan), sementara beberapa anak lelaki mandi telanjang di sampingnya. Bahkan mereka juga melakukan aksi nekat, terjun dari atas jembatan. Di sudut lain beberapa gadis perempuan seusia itu juga sibuk menjaring ikan-ikan kecil dengan saring buatan sendiri.

“Ikan ini bukan buat dipelihara Bang! Kami cuma main-main aja kok,” Sifa Besar menjelaskan.

Melihat saya meneneteng kamera DSLR, beberapa anak lain langsung mengekor. Mereka minta difoto. Beberapa lagi malu-malu mau. “Trak..trak…” beberapa kali saya melakukan shoot acak. Ekspresi mereka lucu.

Begini ekspresi mereka kalau sudah dihadapan kamera. Kiki selalu memaksa tersenyum dengan memamerkan deretan giginya yang ompong. Pio, berlagak preman. Uci, dengan pipinya yang tembem dan mata leci terlihat mengemaskan. Fira dan Sifa kecil, ekpresinya datar saja, natural. Sifa  Besar mampu berlagak dewasa di depan kamera.

Di bawah rumah panggung tadi terlihat beberapa pandangan lain. Seorang lelaki paruh baya sedang asyik baca majalah Tempo. Di samping dia seorang perempuan dewasa (saya menduga istrinya) sedang juga duduk santai menghabiskan sisa-sisa kretek yang sedang dihisapnya.

Di sudut lain, di bawah rumah panggung, seorang wanita keturunan India sedang sibuk memasak sate kerang dan jengkol. Ia terlihat sangat capek. Ketika saya mendekat, ternyata cukup ramah juga. Dia banyak cerita tentang dagangannya. Setiap hari, Bi Indi harus memasak hingga 60 tusuk. Semua satenya akan dititipkan di pusat kuliner  India, Pagaruyung.

Hanya berjarak beberapa meter dari rumah Bi Indi, seorang wanita paruh baya yang juga keturunan India seperti menunggu kami. Dia banyak berbincang. Tahu kalau saya mahasiswa, dia langsung mengajak ke rumahnya. “Bibi lagi masak kue buat di jual. Ayoklah ke rumah, sekalian kamu foto-fotokan,” katanya. Saya menurut.

Rumah Bi Amba juga mirip dengan rumah-rumah lainnya. Hanya saja, bawahan rumah panggungnya disulap menjadi ruang tamu dan dapur. Mereka tidur di atas. Bi Amba masak kue Lepis. Dia juga sering menitipkan dagangannya ke toko-toko atau warung makan. Katanya, ia sudah 20 tahun menjual ini.

Bi Amba banyak cerita tentang kampungnya—perkampungan kumuh. Selama 20 tahun dia tinggal di sini, tiap musim hujan dapat dipastikan banjir. Ini juga menjadi alasan kenapa kebanyakan mereka memilih bikin rumah panggung.

Pernah suatu ketika mereka kedatangan banjir besar. Air sungai meluap. Cucu Bi Amba yang masih kecil hari itu  terpaksa dimasukkan ke dalam ember agar selamat dari genangan air yang semakin menjadi. Usia sang bayi masih tiga bulan. “Beginilah hidup kami Nak! Tapi tetap bersyukur, masih ada orang yang di bawah kita,” katanya mendamaikan.

Bi Amba hanya hidup dari hasil jualan. Kadang banyak—menurut ukurannya—kadang sedikit. Pas-pas buat makan.

Lama juga saya di sana. Dia banyak cerita tentang keluarga, kondisi kampung, hingga masalah ekonomi. Sepertinya Bi Amba juga sangat care dengan tamu. Dia menyuguhi kami (saya dan Caca) dengan kue Lepis buatannya. Singkat cerita, saya janji bakal kembali dua minggu lagi.

Kawan, Lihatlah mereka. Kesederhanaan dalam gang-gang sempit. Kebahagiaan dalam rumah yang sempit. Bahkan mereka selalu merasa cukup untuk kehidupan yang juga terasa sempit.

Rasanya saya perlu belajar banyak dari kerendahan hati mereka. Dari cara anak-anak itu hidup. Dari cara orang tua yang berjuang mati-matian untuk sekedar bisa makan. Dari cara mereka memandang betapa sederhananya kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top