Menyapa Leluhur di Sianjur Mula-mula

Santun Sagala, beberapa kali melirik telepon genggamnya, memastikan keberadaan Kami. Seharusnya kami bisa tiba lebih awal kalau saja kereta─sebutan sepeda motor untuk daerah Sumatera Utara─tidak bikin ulah.

Hari itu pria yang sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Parawisata Kabupaten Samosir ini setia menunggu ke datangan kami di Rumah Bolon-nya.

Rumah Bolon merupakan rumah adat suku batak toba. Di Desa Limbong-Sagala Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir tempatnya tinggal sangat sedikit Rumah Bolon yang masih bertahan.

Menjelang tengah malam, kami baru tiba. Hawa dingin semakin menjadi. Menyeruak, menyapu lembut setiap bagian tubuh. Alih-alih mau merapatkan jaket, hampir semua pakaian yang kami kenakan basah setelah diguyur hujan. Untung saja, Mama Miranda─istri Santun menyiapkan kopi panas dan selimut tebal untuk mengusir dingin.

Malam itu, suasana rumah benar-benar sepi. Kedua anak Santun sudah tidur sejak pukul sembilan malam, hanya terdengar suara rintik hujan dan erangan kerbau di bawah rumah penduduk. Santun mulai cerita tentang desanya. Tentang Rumah Bolon, rumah yang dia tempati, tentang aek sipitu dai (air tujuh rasa), dan sedikit tentang keturunan Batak.

Syahdan, dulunya Rumah Bolon bak istana kerajaan. Ada tiga belas raja secara bergantian menempati rumah ini. Yaitu Tuan Ranjinman, Tuan Nagaraja, Tuan Batiran, Tuan Bakkaraja, Tuan Baringin, Tuan Bonabatu, Tuan Rajaulan, Tuan Atian, Tuan Hormabulan, Tuan Raondop, Tuan Rahalim, Tuan Karel Tanjung, dan Tuan Mogang. Mereka mulai menempati rumah bolon pada abad XV. Namun, seiring berkembang waktu, rumah ini menjadi rumah adat orang Batak. Rumah yang ditempati Santun misalnya, rumah ini adalah rumah peninggalan kakek-kakeknya terdahulu.

Rumah Bolon dibangun menggunakan bahan kayu, bambu, ijuk, dan tali. Sebagian besar bagian rumah terbuat dari kayu baik tiang kerangka rumah dan pintu. Hanya bagian atap yang menggunakan ijuk. Keunikan rumah bolon ini adalah untuk merekatkan papan-atau kayu tidak menggunakan paku. Melainkan tali yang diikat kuat-kuat. Sedangkan tingginya diperkirakan mencapai dua meter.

Keharusan lain yang harus ada di rumah ini adalah jumlah anak tangga yang digunakan harus ganjil. Santun, tidak tahu pasti kenapa harus ganjil. “Sudah begini dari dulu, kita cuma meneruskan,” katanya.

Pada bagian depan Rumah Bolon, tepatnya di atas pintu terdapatgorga. Gorga adalah lukisan yang berwarna merah, hitam dan putih. Lukisan ini berbentuk gambar cicak dan kerbau.

“Itu bukan sekadar pajangan, tapi punya makna. Cicak menggambarkan orang Batak itu fleksibel. Bisa hidup dimana dia harus hidup. Orang Batak terkenal dengan persaudaraannya yang kuat. Nah, kalau lukisan kerbau itu hanya sebagai ucapan terima kasih. Di sini kerbau yang bantu petani kerja di ladang,” Santun menjelaskan.

Bagian atap Rumah Bolon baik depan maupun belakang berbentuk lancip. Bedanya, ujung atap bagian belakang lebih panjang daripada bagian depan. Maknanya, pendahulu selalu berharap keturunan yang lahir selalu lebih sukses daripada mereka. Rumah bolon berbentuk rumah panggung, artinya bagian rumah dapat digunakan sebagai kandang kerbau atau babi.

***

Mama Miranda pagi-pagi benar sudah sibuk di dapur. Pagi ini ia menyiapkan nasi goreng telur dadar dan teh manis panas. Sadar sedang bertamu, kami juga harus bangun lebih cepat. Padahal kami tidur larut malam. Berkali-kali Santun diingatkan ketika coba membelah malam dengan cerita-ceritanya. “Udahlah Bang, besok lagi Abang sambung. Mereka capek seharian tadi,” kami hanya tersenyum santun.

Selesai sarapan, kami sepakat menuju ke suatu tempat penting lainnya. Namun, sepertinya kami benar-benar harus terperangah untuk beberapa saat. Kami lihat pemandangan langka: puluhan babi berikut anak-anaknya di bebas berkeliaran di kampung ini. Di pojok bawah rumah terlihat satu induk babi sedang dikelilingi enam anak-anaknya berebut susu. Lucu sekali. Ada yang hitam, ada juga yang merah jambu.

Ini cukup berbeda dengan keadaan kampung saya di Aceh. Di sana hampir dapat dipastikan tidak boleh ada babi yang hidup. Tiap akhir pekan, anak muda sudah menyiapkan tombak-tombak, parang, berikut anjing pelacak untuk membunuh babi yang berkeliaran. Saya dan kedua teman benar-benar harus berdamai dengan kondisi yang jauh berbeda di sini.

Dalam perjalanan, kami melihat sebuah pohon beringin menjulang tinggi di tengah perkampungan. Jaraknya, hanya sekitar seratus meter dari Rumah Bolon yang ditempati Santun. Umur pohon tersebut diperkirakan sudah sangat tua, banyak cabang, daun-daun rontok bahkan beberapa bagian pohon tampak turun ke bawah layaknya tali tarzan yang digambarkan di film-film. Tidak ada yang tahu pasti berapa umur pohon itu. Pohon yang memiliki lebar sekitar dua meter ini diyakini penduduk setempat sudah ada sejak adanya air tujuh rasa atau yang lebih di kenal dengan Aek Sipitu Dai yang mengelilinginya. Uniknya lagi, pohon ini mampu hidup diantara genangan air.

Santun cerita, sumber mata air ini berasal dari Gunung Pusuk Buhit, tempat pertama Si Raja Batak diturunkan. Si Raja Batak sendiri diyakini sebagai manusia setengah dewa sekaligus pembawa keturunan suku batak di Toba. Dari gunung pusuk buhit terdapat sebuah sungai kecil yang bermuara di Desa Limbong. Muara air inilah yang nantinya menjadi tempat pemandian keluarga raja dan dikenal dengan Aek Sipitu Dai.

Dulu, mata air yang mengalir ke sini di pisah menjadi tujuh tempat. Semuanya memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda. Jumlahnya tujuh, juga ada maknanya. Bagi orang Batak, angka tujuh berarti angka yang sakral. Angka ini selalu sakral digunakan untuk melakukan ritual atau acara adat. Misalnya, harus tujuh macam, harus tujuh kali, harus tujuh buah, harus tujuh lembar, atau harus tujuh potong.

Menurut Santun, nama masing-masing ketujuh pancuran itu adalah Ni Dakdanak, Ni Sibaso, Ni Ina-Ina, Ni Namabaju, Ni Pangulu, Ni Doli dan HelaNi Dakdanak berarti pancuran tersebut digunakan untuk pemandian bayi yang belum ada giginya. PancuranNi Sabaso dan Ni Inan-Ina masing berfungsi untuk pemandian ibu-ibu yang sudah tua dan wanita yang melahirkan. Pancuran Ni Namabajubiasanya dipakai oleh para gadis. Sedangkan tiga lainnya digunakan oleh kaum laki-laki. “Ni Pangulu itu buat raja. Kalau yang ini,” Santun menunjuk kepada patung pria dewasa “untuk pemandian lelaki dewasa, namanya Ni Doli. Sedangkan satu lagi namanya Hela, digunakan untuk menantu laki-laki yang mengawini putri marga Limbong,” Santun merincikan.

Pancuran ini tidak begitu besar. Tiap sumber air hanya dipisahkan sekat-sekat tembok yang dibuat dari semen. Dulu malah tidak ada pembatas. Menurut Santun, sekitar tahun 2000 pemerintah Kabupaten Samosir baru membangun sekat dan patung untuk membedakan tiap pancuran.

Beberapa wanita keluar dari sebuah sekat pancuran. Mereka bawa ember yang berisi baju yang baru saja dibilas. Wanita lain juga demikian, ada yang membawa ember berisi air dan juga piring yang telah dicuci. Ternyata selain tempat wisata, pancuran ini sudah digunakan oleh penduduk setempat untuk mandi, mencuci dan mengambil air untuk kebutuhan memasak.

Air-air yang mengalir ke perumahan penduduk juga berasal dari pancuran Aek Sipitu Dai. Mereka memasang mesin pompa air berikut pipa-pipanya untuk membagi air tiap rumah. “Nah, ini unik. Seberapa banyak pun air di sini di pake, enggak pernah berkurang volumenya.” Santun mengatakan, walaupun musim kemarau dan hujan melanda, jumlah air di Aek Sipitu Dai tetap normal.

Penasaran dengan rasa air, saya coba mengadahkan kedua telapak tangan ke sebuah patung laki-laki dewasa untuk mencicipinya. Namun, Santun mencegah. “Etika di sini, kita harus memberi salam dulu baru boleh menggunakan air. Salamnya begini: Horas, horas, bah!” saya mengikuti anjuran Santun dan mulai mencicipi satu-persatu.

Tiap mata air memang memberi rasa yang beragam. Rasanya agak asam seperti layaknya jeruk purut. Namun, kadarnya beda-beda. Sedangkan air di sungai kecil sembelum membagi ke tutuh saluran tetap terasa tawar. Santun bilang, kalau salah satu dari tujuh tempat air ini dibawa pulang tanpa direstui sang pemilik alam, maka rasanya akan berubah tawar. Sayang, saya tidak mencobanya.

Santun juga bilang kalau penduduk setempat meyakini bahwa air yang berasal dari Aek Sipitu Dai ini adalah air suci. Khasiatnya dapat menyembuhkan dari segala macam penyakit. “Di sini malah ada orang yang mau bertapa hingga berhari-hari meminta kesembuhan kepada Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Mah Esa),” jelasnya lagi.

Aek Sipitu Dai punya cerita lain. Ia Selalu dikait-kaitkan dengan asal muasal sejumlah marga keturunan Batak. Misal, cerita tentang Raja Lontung dan Boru Pareme. Suatu hari diwaktu yang lalu, mereka bertemu di Aek Sipitu Dai. Pertemuan mereka berbuah pernikahan yang menghasilkan tujuh anggota keluarga baru. Mereka adalah Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar. Ketujuh anak tersebut nantinya menjadi marga di kalangan suku Batak. Sejarah dan runutan marga batak tentunya akan sangat panjang. Tentu tidak mungkin saya jelaskan semua ditulisan ini. Karena tiap marga punya kehidupan dan kerajaan masing-masing.

Merasa cukup menyapa leluhur, kami inisitif berkeliling di sekitar Gunung Pusuk Buhit. Suasana yang begitu segar dan jauh dari bisingnya kota tentu akan sangat memanjakan mata. Hamparan ladang dan sawah yang begitu hijau begitu menggoda. Belum lagi Toba dengan danaunya yang begitu indah terlihat jelas dari tempat kami berdiri. Walaupun sekali waktu masih harus mengernyitkan dahi dan mengigit gigi ketika secara tidak sadar sekumpulan babi mendekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top